Berwisata dan Ziarah Kubur di Toraja

Berwisata dan Ziarah Kubur di Toraja
5 (100%) 1 vote

Berbicara tentang pariwisata di Sulawesi Selatan, tidak bisa dilepaskan dari Tana Toraja. Sejak dulu Tana Toraja mejadi objek wisata andalan Sulawesi Selatan dan Indonesia secara umum. Tana Toraja sendiri sejak tahun 2008 telah dimekarkan menjadi 2 kabupaten, yaitu Kab. Tana Toraja dengan ibukota Makale dan Kab. Toraja Utara dengan ibukota Rantepao. Daerah ini terletak 328 KM di utara Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan.

Wisata andalan Toraja adalah wisata religi, adat dan juga wisata alamnya. Ketiga jenis wisata ini saling berkaitan erat, karena adat/budaya Toraja banyak berhubungan dengan kegiatan keagamaan (religi) dan juga melibatkan alam. Wisata ini berupa upacara kematian (Rambu Solo) dan rangkaiannya serta kuburan-kuburan uniknya. Upacara rambu solo tidak setiap saat bisa ditemui, namun kuburan-kuburan unik bisa didatangi sepanjang tahun. Beberapa tempat di Toraja yang terkenal menjadi pusat pemakaman atau kuburan tersebut dapat kita kunjungi antara lain:

1. Londa

londa

Tau-tau di atas pintu masuk goa. Pengunjung harus membawa alat penerangan ke dalam goa

Londa adalah salah satu komplek pekuburan alam unik di Toraja. Terletak kurang lebih 7 kilometer di selatan Kota Rantepao. Jaraknya yang dekat mudah dicapai dengan kendaraan umum seperti ojek, mobil atau motor sewaan. Londa ini merupakan goa yang mempunyai 2 pintu yang saling berhubungan, di dalamnya terdapat banyak peti mayat yang diletakkan sedemikian rupa di dalam goa. Jangan lupa menyewa lampu petromaks sebagai penerang. Lampu tersebut bisa dibawa sendiri atau menyewa orang lokal yang juga berperan sebagai guide untuk membawanya. Di dalam goa di Londa inilah terdapat sepasang tengkorak yang konon merupakan Romeo-Juliet versi Toraja.

Di luar goa, terdapat beberapa patung miniatur manusia yang disebut tau-tau yang dipasang berjejer di atas pintu masuk goa. Tau-tau ini merupakan miniatur jenazah yang dikubur di sini. Namun tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan tau-tau, hanya kalangan bangsawan saja yang berhak dibuatkan tau-tau dan itu pun setelah memenuhi persyaratan adat. Sementara di atasnya lagi, di tebing yang menjulang tinggi terdapat beberapa lubang. Di dalam lubang-lubang di tebing inilah jenazah para bangsawan tersebut dikuburkan. Konon semakin tinggi penempatan peti jenazah di teing, berarti semakin tinggi derajatnya.

2. Lemo

lemo1

Deretan tau-tau dan kuburan di tebing batu di Lemo

Lemo terletak 11 km di selatan Rantepao dan 7 km di sebelah utara Makale. Lemo merupakan kuburan di dinding bukit tebing yang awalnya diperuntukan untuk bangsawan Toraja. Terdapat lebih dari 70 buah lubang batu kuno di dinding bukit dan juga terdapat patung kayu tau-tau sebagai miniatur dari mereka yang sudah meninggal. Di dalam satu lubang kuburan berukuran 3 x 5 meter tersebut kadang berisikan satu keluarga. Di beberapa bagian peti-peti jenazah ditumpuk atau diatur sesuai garis keturunan dan keluarga. Pintu lubang tempat memasukkan jenazah ditutupi pintu kayu berukir atau hanya penutup dari bambu. Menurut penuturan masyarakat setempat, kuburan tertua di tempat ini adalah seorang tetua adat bernama Songgi Patalo.

3. Kete’ Kesu

ketekesu

Kete’ Kesu, salah satu komplek pemakaman tertua di Toraja, dikelilingi persawahan hijau

Kete’ Kesu adalah objek wisata yang wajib dikunjungi bila ke Toraja. Merupakan Desa yang menjadi kawasan cagar budaya dan pusat berbagai upacara adat Toraja yang terdiri dari pemakaman adat yang dirayakan dengan meriah (rambu solo), upacara memasuki rumah adat baru (rambu tuka), serta berbagai ritual adat lainnya. Upacara dan perayaan adat oleh masyarakat banyak dilakukan di sini antara bulan Juni – Desember.

Desa ini berada 4 km di bagian tenggara Rantepao, terdiri dari persawahan yang mengelilingi rumah adat tongkonan, di mana tongkonan tersebut berhadapan dengan lumbung padi kecil. Di dalam salah satu tongkonan terdapat museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja, mulai dari ukiran, senjata tajam, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera merah putih yang konon disebutkan merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu. Masyarakat yang hidup di desa ini umumnya memiliki keahlian sebagai pemahat dan pelukis, sehingga selain sebagai objek wisata, tempat ini juga dimanfaatkan untuk menjual berbagai pahatan dan suvernir tradisional Toraja.

Kompleks pekuburan terletak di belakang tongkonan, terdapat jalanan setapak di dekat penjual souvenir. Kuburan batu di kete’ kesu kabarnya termasuk yang tertua di Toraja. Memasuki daerah pekuburan, suasana mistis sangat terasa. Kuburan² batu di pinggir jalan lengkap dengan tau-tau dan foto serta peti² jenazah di tebing² batu. Peti² jenazah diletakkan sedemikian rupa di pinggir tebing atau digantung, ada yang sudah tua dan lapuk, bahkan sebagian tulang dan tengkorak berserakan di pinggir jalan. Di salah satu bagian tebing ini juga terdapat goa tempat menyimpan peti jenazah.

4. Bori

bori

Menhir (simbang batu), kuburan batu dan baby grave di Bori

Kompleks pekuburan ini terletak di sebelah 5 km di sebelah utara Rantepao. Tempat ini merupakan salah satu dari sembilan situs yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Pengunjung akan disambut dengan jejeran batu² menhir yang berjejer rapi. Jejeran menhir yang disebut simbuang batu tersebut bertujuan untuk menghormati pemuka adat atau kaum bangsawan yang telah meninggal dunia. Batu-batu menhir tersebut merupakan perlambang status sosial yang lebih tinggi. Pemberian dan pembuatan menhir sendiri harus melalui upacara dan terdapat syarat wajib yang harus dipenuhi. Menhir hanya diberikan bagi mereka yang memenuhi tingkat Rapasan Sapurandanan, yang berarti mengorbankan hewan kerbau minimal 24 ekor pada saat upacara penguburan.  Saat ini ada sekitar 102 bilah batu menhir yang berdiri, terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang, dan 54 buah ukuran kecil.

Selain simbuang batu, di Bori ini terdapat bangunan tempat diadakannya upacara rambu solo. Terdapat pula pekuburan batu dan juga baby grave. Terdapat sebuah batu besar berbentuk oval yang dilubangi sebagai tempat meletakkan jenazah yang disebut Liang Pa’. Sementara baby grave merupakan kuburan bayi yang berupa pohon besar. Bayi yang belum memiliki gigi dan meninggal, dikuburkan di dalam pohon. Pohon besar dilubangi dan disitulah mayat bayi dimasukkan, kemudian ditutup dengan papan kayu dan ijuk, sehingga dari jauh tampak seperti pohon yang ditambal.

**

Nah, sudah siap berwisata sambil berziarah kubur di Toraja?

(Visited 455 times, 1 visits today)


About

anbhar.net | AngingMammiri.Org | AC Milan | PSM | Sobatpadi | Suka Dunia Militer & Penerbangan | Berenang & Snorkeling | Ngemil | Jalan2 | | AB+


'Berwisata dan Ziarah Kubur di Toraja' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool