Pantai Kasuso Bulukumba

Berjumpa Ninda di Pantai Kasuso, Bulukumba

Berjumpa Ninda di Pantai Kasuso, Bulukumba
5 (100%) 1 vote

Sinar matahari mulai menyengat kulit saat kami meninggalkan penginapan di Pantai Kaluku dengan tujuan mencari warung untuk makan siang dan melanjutkan niat menjelajahi pantai-pantai indah di Bulukumba. Kabupaten Bulukumba memang memiliki garis pantai yang panjang sehingga tidak heran memiliki banyak pantai indah dengan tipe yang hampir seragam, pantai landai dengan pasir putih halus dengan panorama alam yang menawan. Pantai Kasuso Bulukumba adalah salah satu di antaranya.

Pantai Kasuso Bulukumba berlokasi di Dusun Kasuso, Desa Darubiah, Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba. Dari Kota Makassar, dibutuhkan waktu 4 hingga 5 jam untuk mencapai Kota Bulukumba dengan jarak tempuh sekira 200 km. Dari kota Bulukumba, harus menempuh perjalanan lagi sekira 24 km untuk menuju kecamatan Bonto Bahari di mana sebagian pantai-pantai eksotis ini berlokasi.

Pantai kasuso Bulukumba

Kasuso merupakan nama sebuah perkampungan nelayan, diberi nama demikian karena banyak ditemukan suso (sejenis kerang) di sana. Sebelumnya, saya tidak pernah mendengar tentang pantai Kasuso ini. Memang namanya tidak setenar Apparallang, Pantai Bara apalagi Pantai Bira yang sudah tersohor ke mana-mana.

Kami mengandalkan GPS untuk menemukan lokasi Pantai Kasuso Bulukumba karena menurut informasi belum ada petunjuk jalan yang jelas ataupun plang nama yang dipasang di jalan menuju pantai tersebut. Dari jalan poros Kota Bulukumba menuju Tanjung Bira, setelah melewati penurunan panjang (daerah Lahongka), kita akan menemukan pertigaan di sebelah kiri jalan. Berbeloklah memasuki jalan tersebut, tetapi hati-hati ya karena jalannya langsung menikung tajam dan agak menurun. Nah, Dusun Kasuso berjarak sekira 4 km dari pertigaan tersebut.

Untuk menuju Pantai Kasuso Bulukumba harus melewati jalur yang cukup ekstrim dan bikin jantung dumba-dumba galeter. Sepanjang jalan saya menahan napas, berdoa sambil memeluk erat BabyJo. Bagaimana tidak, kita melewati jalanan menurun yang sempit, meskipun beraspal mulus tetapi di sebelah kiri ada hutan yang cukup lebat dan di sebelah kanan adalah jurang yang cukup dalam. Konon, hutan ini merupakan habitat yang nyaman bagi para monyet, babi hutan dan burung yang cantik karena masih asri dan belum terjamah tangan manusia. Sayangnya, saya tidak sempat nengok kiri kanan mencari kawanan hewan tersebut karena sibuk memperhatikan jalanan terjal menurun di depan mata.

Setelah melewati turunan tadi, akhirnya mobil berbelok di sebuah perkampungan dengan rumah-rumah penduduk yang berderet rapi di sepanjang garis pantai. Masih mengandalkan GPS, mobil bergerak menelusuri jalan di dusun Kasuso, berbelok kanan lalu lurus hingga ketemu sebuah tanah lapang berpasir yang dijadikan lokasi parkir untuk para pengunjung Pantai Kasuso Bulukumba.

Pantai kasuso Bulukumba

Seperti pantai-pantai di Bulukumba pada umumnya, Pantai Kasuso juga memiliki ombak yang tidak terlalu besar, pasir putih lembut membelai kaki, tebing tinggi di kiri kanan yang seakan membentengi pantai dan bentangan lautan dengan gradasi warna biru muda ke biru tua. Di pinggir pantai berserakan sampah alam, dedaunan kering dan rumput laut yang terbawa arus.

Tidak jauh dari pinggir pantai berdiri kokoh sebuah batu besar yang mirip pulau kecil dengan beberapa pohon. Batu karang ini dinamakan Batu Taha, yang seringkali menjadi latar belakang berfoto di Pantai Kasuso Bulukumba.

Di sisi selatan dan utara dusun Kasuso terdapat pekuburan massal. Konon, pada tahun 70-an ada sebuah kapal dari Palopo yang karam di teluk Bira dan mayat penumpang kapal tersebut terdampar di tepi pantai Kasuso yang akhirnya dibuatkan satu pekuburan khusus. Agak seram juga dengarnya hiks makin down deh semangat untuk menyeberang ke Pulau Selayar.

Puas berfoto-foto dengan background Batu Taha, saya melangkahkan kaki menuju salah satu dari tiga warung kecil yang ada di pinggir pantai. Warung ini menjual minuman dingin dan beberapa jenis snack. Nah, yang menarik perhatian adalah aktivitas seorang gadis remaja penjaga warung tersebut. Saya yang lumayan familiar dengan dunia craft langsung menebak dia sedang membuat sebuah tas dengan teknik makrame yaitu kerajinan merangkai tali menjadi sebuah simpul demi simpul sehingga menjadi bentuk yang diinginkan.

Pantai kasuso Bulukumba

Namanya Ninda, usianya baru 19 tahun, berambut ikal, kulit agak gelap dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Dia ramah sekali menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang kami ajukan sambil sesekali tersenyum manis sementara tangannya tidak henti bergerak lincah membuat simpul dari tali kur yang berbeda warna. Dia sedang membuat sebuah tas kecil.

Tadinya saya mengira bahwa tas tersebut dibuat untuk dipakai sendiri nantinya. Ternyata tidak. Dia (dan juga beberapa penduduk lainnya) hanya diupah untuk mengerjakan tas tersebut. Seorang wanita tetangganya (yang sayangnya saya lupa namanya) mengajari mereka cara membuat tas dengan teknik makrame lalu menyediakan bahan yang dibutuhkan. Setiap tas besar akan diupah 20 ribu rupiah sedangkan untuk tas berukuran kecil upahnya sebesar 10 ribu rupiah.

“Lumayan kak, sambil menunggu pembeli”, demikian katanya. Ninda sendiri lupa, entah sudah berapa tahun dia menekuni aktivitas ini, menjajakan minuman dingin di tepi pantai Kasuso sambil membuat tas makrame untuk mengisi waktu luang menunggu pembeli.

Sayangnya waktu yang terbatas membuat saya tidak bisa bertanya lebih lanjut, teman-teman ingin segera melanjutkan perjalanan menuju Apparalang. Saat menanyakan arah menuju ke Apparalang, Ninda menunjuk ke satu arah lalu berkata,” di sana Apparalang kak.”

Di setiap destinasi wisata yang kita tuju, kita akan berjumpa dengan penduduk lokal, tapi pernahkah terpikir untuk menyapa mereka dengan ramah? Belajar lebih peka saat sedang berwisata adalah bagian dari perjalanan wisata itu sendiri.

“It’s not about the destination; it’s about the journey.” Travel Quote – Roadtrip America

Setiap perjalanan selalu mengajarkan banyak hal yang tidak selalu sama, mengeksplore alam sekitar, bertemu orang baru, mempelajari budaya dan adat istiadat yang berbeda, mencicipi kuliner khas dan yang terpenting adalah lebih mengenal diri sendiri.

Itulah mengapa bagi sebagian orang, destinasi bukanlah tujuan utama tetapi tentang menyerap ilmu dari sekitar, apa yang bisa kita pelajari dari makna perjalanan itu sendiri, bagaimana hal tersebut membuat kita menjadi lebih peka dan memiliki sudut pandang baru yang berbeda dari sebelumnya.

Selamat melakukan perjalanan!

Mau liburan ke Makassar dan sekitarnya? Cari di sini: tiket pesawat dan hotel
(Visited 238 times, 1 visits today)


About

Mother of #BabyJo || Blogger http://nanie.me || Traveller and Food Lover http://jokkajokka.com || Find me at IG @naniekoe


'Berjumpa Ninda di Pantai Kasuso, Bulukumba' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool