Bagaimana Menikmati Makassar Dalam 24 Jam?

Bagaimana Menikmati Makassar Dalam 24 Jam?
5 (100%) 1 vote

Mari kita mulai kisah ini dengan perandaian. Andai Anda tiba-tiba ada di kota Makassar dan punya waktu luang selama 24 jam. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Akan ke mana Anda? Ingin menikmati apa di kota Makassar dengan waktu sesingkat itu?

Baiklah, saya punya tips buat Anda yang kebetulan terdampar di kota Makassar dengan waktu yang hanya 24 jam. Semua tempat yang akan saya ceritakan dalam kisah ini berada tidak jauh dari garis pantai, jadi asumsinya Anda menginap di sekitaran Pantai Losari, minimal bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki atau menumpang ojek dengan biaya tidak lebih dari Rp. 10.000,-

Kita mulai ya.

2 jam pertama.

Dua jam pertama di pagi hari bisa Anda habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar Pantai Losari. Menikmati siraman matahari dengan latar depan laut biru yang membentang sejauh mata memandang. Sesekali ada perahu nelayan yang melintas, di kejauhanpun ada pulau-pulau kecil yang seperti disebar begitu saja oleh Sang Maha Pencipta.

Pagi hari di Pantai Losari selalu menyenangkan karena relatif lebih sepi dari para wisatawan. Anda bisa berkeliling sepuasnya seakan-akan anjungan itu memang hanya dibuat untuk Anda seorang. Kalau perut lapar, silakan menikmati beragam sajian kuliner yang ada di sekitar Pantai Losari. Harganya tidak sampai Rp. 10.000,- untuk seporsi soto atau makanan lainnya.

Begini penampakan Pantai Losari di pagi hari

Begini penampakan Pantai Losari di pagi hari

Ini nasi kuning Riburane, lumayanlah buat sarapan

Ini nasi kuning Riburane, lumayanlah buat sarapan

Kalau mau bersusah payah sedikit Anda bisa berjalan terus ke arah Utara sampai ke Jl. Riburane. Carilah warung Nasi Kuning Riburane yang sudah melegenda. Nasi kuning memang bukan khas Makassar, tapi warung yang satu itu sudah terlanjur akrab dengan kota Makassar. Siapkan minimal Rp. 25.000,- untuk seporsi nasi kuning a la Makassar.

4 Jam Berikutnya.

Oke, sarapan sudah. Sekarang perut sudah terisi penuh, siap untuk petualangan berikutnya. Nah, ke Makassar tanpa mencicipi air lautnya rasanya agak kurang pas. Karenanya tujuan selanjutnya yang saya sarankan adalah laut! Bagaimana kalau kita ke pulau Samalona?

Pulau ini terletak sekira 30 menit perjalanan dengan perahu bermotor dari pelabuhan di depan Fort Rotterdam atau di Kayu Bangkoa tak jauh dari Pantai Losari. Sayangnya, tidak ada pelayaran regular ke pulau itu. Jadi Anda harus menyewa perahu senilai Rp. 400.000,- pergi-pulang. Memang berat kalau ditanggung sendirian, cobalah mencari teman jalan yang mungkin sama-sama punya keinginan yang sama ke pulau Samalona.

Di Samalona, Anda bisa mmenikmati pasir putih dan laut yang jernih

Di Samalona, Anda bisa mmenikmati pasir putih dan laut yang jernih

Meski agak mahal, percayalah kalau pulau Samalona memang menjanjikan buat mereka yang senang pasir, pantai dan angin laut.

Tips: pulanglah sebelum sore karena ombak biasanya agak tinggi selepas jam 1 siang. Daripada beresiko lebih baik buru-buru kembali ke daratan.

Waktu Makan Siang.

Oke, sekarang Anda sudah kembali menginjakkan kaki di daratan Makassar. Tentu dengan perut keroncongan selepas menikmati pasir dan pantainya Pulau Samalona, jadi sekarang mari mencari makan siang!

Mudah-mudahan Anda bukan vegetarian dan bukan pembenci sajian makanan laut. Karena kalau seperti itu maka Anda datang ke kota yang salah. Makassar terkenal dengan makanan serba dagingnya plus sajian hasil laut yang melimpah. Jadi mari memilih satu di antara dua jenis makanan itu yang akan jadi pelampiasan makan siang Anda.

Bagaimana kalau kita mulai dengan daging saja dan menyisakan olahan laut buat makan malam? Setuju ya?

Ada dua jenis makanan yang bisa dipilih untuk makan siang tak jauh dari garis pantai. Pertama, konro. Anda bisa menikmati Konro Karebosi yang warungnya terletak sekira 1 km dari arah utara garis pantai, tepatnya di Jl. Gunung Lompobattang.

Atau Anda mau menikmati coto? Boleh juga. Silakan ke Jl. Ranggong Daeng Romo yang juga tak jauh dari tepi pantai. Ada Coto Ranggong yang juga terkenal dan sudah jadi legenda di kota ini. Kedua tempat itu bisa dijangkau dengan jalan kaki, naik ojek atau menumpang taksi.

Menjelang Sore dan Menanti Sunset.

Habis makan siang Anda mungkin sedikit lelah. Maklum, tubuh pasti capek selepas berjalan jauh dan menikmati laut. Jadi Anda mungkin ingin kembali ke penginapan dulu, sekadar membasuh badan dan beristirahat beberapa jenak sampai matahari agak turun dan sore menjelang.

Fort Rotterdam yang teduh di sore hari

Fort Rotterdam yang teduh di sore hari

Kalau sudah sore Anda bisa mengunjungi Fort Rotterdam, benteng tua peninggalan masa kolonial yang berdiri tegak tak jauh dari bibir pantai. Di sana Anda bisa masuk ke museum yang menyajikan sejarah singkat kota Makassar dan kerajaan Gowa serta budayanya. Tetaplah di sana menikmati suasana benteng yang teduh dan kadang ramai oleh warga di sore hari.

Menjelang matahari terbenam naiklah ke dinding benteng yang menghadap langsung ke arah Barat. Di sana Anda bisa menikmati matahari yang beranjak pulang sampai benteng benar-benar ditutup untuk umum.

Menghabiskan Malam.

Oke, matahari sudah turun dan berganti dengan malam. Saatnya beranjak dari Fort Rotterdam dan bergerak ke arah Selatan, ke Jalan Somba Opu. Untuk apa ke Jl. Somba Opu? Tentu saja untuk mencari buah tangan sebelum meninggalkan Makassar keesokan harinya. Cukup dengan berjalan kaki sekira 300 meter Anda sudah berada di jalan yang berisi begitu banyak toko penjual cinderamata dan ole-ole.

Silakan memilih salah satu toko, membeli apa saja yang ingin Anda beli untuk kerabat, teman atau orang kesayangan. Ingat! Sesuaikan dengan kemampuan Anda karena barang-barang yang dijajakan kadang sangat menggoda.

Selesai belanja di Jl. Somba Opu sekarang saya mau mengajak Anda terus ke Selatan, menuju anjungan Pantai Losari. Mudah-mudahan Anda belum lapar, jadi untuk sementara cukuplah mengganjal perut dengan sepiring pisang epe, sajian khas yang sangat mudah ditemui di Pantai Losari. Mungkin anjungan Pantai Losari akan sedikit ramai di malam hari, jadi carilah spot yang pas dan nyaman untuk menikmati sepiring pisang epe.

Seporsi pisang epe keju, lumayan untuk mengganjal perut

Seporsi pisang epe keju, lumayan untuk mengganjal perut

Setelah sepiring pisang epe tandas, Anda bisa tetap berjalan menyusuri Pantai Losari melihat dan merasakan denyut kota yang masih menggelora di malam hari. Jangan lupa untuk mengambil gambar, sebagai kenang-kenangan tentu saja.

Kalau sudah capek menyisir Pantai Losari dan perut mulai lapar maka itu tandanya Anda sudah berus bergeser ke Jl. Datu Museng untuk menikmati olahan laut khas kota Makassar. Ada banyak warung olahan laut di jalan itu, tapi saya menyarankan warung makan Lae-Lae. Warung makan itu salah satu yang terkenal dan tentunya lumayan terjangkau. Silakan memilih menu apa saja di sana dan rasakan nikmatnya olahan laut kota Makassar.

Dan, itulah akhir perjalanan kita di kota Makassar dalam kurang dari 24 jam. Selepas makan Anda bisa kembali ke penginapan dengan hati riang, perut kenyang dan mungkin dompet yang sedikit meriang. Beristirahatlah karena besok pagi Anda harus meninggalkan kota Makassar, tentu dengan harapan Anda bisa kembali lagi ke kota ini karena 24 jam tidak cukup untuk menikmati kota Makassar dan sekitarnya.

Jadi, jangan hanya berhenti di 24 jam! Kembalilah ke Makassar kapan saja. [dG]

(Visited 1,012 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Bagaimana Menikmati Makassar Dalam 24 Jam?' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool