Bagaimana Keluar Dengan Selamat Dari Bandara Sultan Hasanuddin?

Bagaimana Keluar Dengan Selamat Dari Bandara Sultan Hasanuddin?
5 (100%) 1 vote

Sultan Hasanuddin, nama itu terasa sangat lekat dengan kota Makassar. Diambil dari nama Raja Gowa ke-XVI, Sultan Hasanuddin jadi simbol perjuangan Kerajaan Gowa-Tallo melawan agresi kolonial Belanda di bawah VOC. Tahun 1973 lewat keputusan presiden No. 087/TK/1973 Sultan Hasanuddin resmi diangkat sebagai pahlawan nasional.

Nama besar Sultan Hasanuddin kemudian banyak diabadikan di kota Makassar. Dari nama jalan, nama universitas negeri sampai terakhir nama bandara. Bandara Sultan Hasanuddin sudah berdiri sejak tahun 1937 dengan nama awal Lapangan Terbang Kadieng. Setelah sempat berganti nama beberapa kali, tahun 1980 bandara ini kemudian diubah menjadi Lapangan Terbang Sultan Hasanuddin yang terus bertahan hingga sekarang.

Tahun 2008 lokasi bandara lama yang dulu berada di daerah Mandai kab. Maros dipindahkan lebih ke Selatan di lokasi baru yang lebih besar. Terminal bandarapun dibangun baru dengan desain yang lebih megah dan modern. Selama beberapa tahun bandara Sultan Hasanuddin menjadi salah satu bandara terbaik di Indonesia sebelum kemudian bandara-bandara lain yang tak kalah menterengnya mulai muncul.

bandara2

Bagian dalam bandara Sultan Hasanuddin

Seperti umumnya bandara internasional di kota-kota besar, bandara Sultan Hasanuddinpun penuh dengan keriuhan utamanya di terminal kedatangan. Hampir sepanjang hari ribuan manusia melewati pintu kedatangan, keluar dari area bandara. Keriuhan ini dimanfaatkan oleh banyak orang yang menawarkan jasa transportasi yang siap membawa penumpang dari bandara ke daerah tujuan mereka masing-masing.

Sayangnya, sebagian besar mereka yang menawarkan jasa itu bertindak lumayan agresif. Mereka mendekati penumpang yang baru saja keluar dari bandara, menawarkan jasa dan pantang menyerah bahkan ketika kita menunjukkan tanda tidak berminat. Lepas dari yang satu, bisa saja yang lainnya akan mendekati kita.

“Avanza pak?”

“Taksi pak?”

“Ojek pak?”

Kadangkala tawaran itu terasa menjengkelkan karena mereka terus menerus mengikuti kita. Buat saya kadang ini rasanya seperti intimidasi yang mulai membuat tidak nyaman.

Untungnya sekarang para penyedia jasa transportasi itu sudah mulai ditertibkan. Mereka tak lagi berada dekat dengan pintu kedatangan, tapi berada di bagian bawah tepat di anjungan kedatangan. Tingkah merekapun tidak lagi seagresif dulu.

Suasana terminal kedatangan

Suasana terminal kedatangan

Untuk Anda yang baru pertama kali mendarat di Makassar dan ingin keluar dari bandara Sultan Hasanuddin, berikut ada beberapa pilihan moda transportasi yang bisa Anda pilih dan sesuaikan dengan kebutuhan.

A.  Bis Bandara.

Di bandara Sultan Hasanuddin kebetulan ada juga bis DAMRI yang melayani trayek bandara-kota. Bis ini terparkir di dekat anjungan kedatangan. Anda bisa membeli tiket di loket yang tersedia dekat pintu kedatangan atau membeli tiket di atas bis.

Ketika keluar dari bandara, Anda cukup berjalan ke arah bawah menuju anjungan kedatangan. Anda akan segera menemukan bis DAMRI yang terparkir di anjungan kedatangan. Kalau Anda tidak menemukannya, silakan bertanya kepada petugas bandara.

Bis DAMRI ini mematok harga Rp. 25.000,- jauh-dekat. Jalurnya melewati Jl. Perintis Kemerdekaan terus hingga ke pusat kota di Jl. Riburane dekat lapangan Karebosi. Sebelum naik bis pastikan tujuan Anda dilewati bis bandara, atau minimal di daerah yang tak jauh dari jalurnya. Bis bandara beroperasi dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam.

Kaca bandara

Kaca bandara

B. Taksi atau Mobil Rental.

Ini moda transportasi paling banyak tersedia sekaligus paling mahal. Ada beragam jenis perusahaan taksi maupun mobil rental yang siap mengantar para penumpang yang baru mendarat. Sebelum keluar dari terminal kedatangan Anda bisa memesan taksi atau mobil rental melalui mesin yang tersedia di dekat pintu keluar.

Tiket pemesanan yang kita dapat bisa langsung dibawa ke konter yang berada di bagian bawah terminal kedatangan. Petugas akan mengecek ketersediaan taksi atau mobil rental sesuai kebutuhan kita. Kalau tidak atau belum tersedia, mereka akan menganjurkan kita untuk mengganti dengan taksi atau mobil rental lainnya. Kita bisa menerima, bisa juga tidak.

Pastikan mekanisme pembayarannya. Beberapa taksi menetapkan biaya sesuai argo seperti Bosowa Taksi, tapi ada juga yang menerapkan sistem zona menurut radius kilometer. Mulai dari zona I yang dibanderol Rp. 80.000, zona II seharga Rp. 110.000 dan zona III seharga Rp. 150.000.

Kalau Anda butuh mobil rental yang bisa dipakai seharian, Anda juga bisa bernegosiasi dengan supir atau perusahaan penyedia jasa transportasi yang ada di bandara. Kisaran harganya Rp. 300.000,-/ 12 jam.

C. Ojek.

Ini salah satu moda transportasi alternatif yang kerap jadi pilihan untuk mereka yang berkantong tipis. Para pengojek bandara memang masih kurang tertib dan tidak menggunakan seragam sehingga kita sulit untuk menebaknya. Satu-satunya tanda untuk mengetahui keberadaan mereka adalah ketika mereka menawarkan diri.

Tarif ojek di bandara beragam, benar-benar sesuai kemampuan menawar dan kesepakatan bersama. Sebagai dasar, untuk jarak sekira 10km saya biasa membayar seharga Rp. 60.000,-. Jumlah ini lebih murah dari argo taksi yang biasa membutuhkan biaya sampai Rp. 110.000,- dengan jarak yang sama.

Nah, itulah tiga jenis moda transportasi yang bisa Anda pilih untuk keluar dari bandara Sultan Hasanuddin menuju tempat tujuan Anda. Silakan disesuaikan dengan isi kantong atau kebutuhan Anda.

(Visited 1,618 times, 1 visits today)


About

Blogger ~ Suka jalan-jalan gratisan ~ Sedang belajar motret ~ Mengasuh http://daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri


'Bagaimana Keluar Dengan Selamat Dari Bandara Sultan Hasanuddin?' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool