10 Ikon Kuliner Makassar

10 Ikon Kuliner Makassar
Vote Us

Senin, 30 November merupakan  tanggal penetapan 10 ikon kuliner Makassar Acara ini dibuka oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar; Ir. Hj. Rusmayani Madjid, M.Sp dan dihadiri oleh lebih kurang sekitar 100 peserta. Mereka merupakan perwakilan Ibu-ibu PKK 14 kecamatan yang ada, Institusi Pendidikan, Komunitas Blogger dan perwakilan beberapa Hotel yang ada di Makassar.

Makassar sendiri sebagai salah satu kota besar, memiliki ragam kuliner yang ada. Ini terjadi karena keragaman suku yang ada, juga merupakan budaya serapan dari budaya luar yang kebanyakan berasal dari India, Arab, Tionghoa dan Jawa –untuk budaya nasional-. Misalnya saja kue dalam bahasa Makassar yang disebut dengan Kanre Jawa –makanan dari Jawa-. Tidak ada bahasa tradisional kue untuk Makassar, berbeda dengan suku Bugis yang menyebut kue dengan Beppa.

Tak kurang dari 100 jenis sajian kuliner masuk dalam survei ikon kuliner Makassar . Wuiih luar biasa, sudah kebayang bagaimana kalian akan puas pelesir ke Makassar dan melakukan wisata kuliner, mencicip ragam cita rasa sajian dengan bumbu dan rempah yang kuat, serta kudapan-kudapan yang tak kalah lezat dan nikmat.

Suasana menjadi hangat dengan dibahasnya berbagai faktor yang mendukung diciptakannya masakan-masakan khas yang tetap membawa cita rasa tradisional dan dinilai tidak hanya dari aspek kultural, relijius, gizi dan kesehatan, namun juga dari penilaian; orisinal produk, pencitraan pariwisata, proses produksi serta karakteristik khas ikon kuliner Makassar.

Dari berbagai kuliner yang ada, untuk tahun ini yang terpilih ada 10 ikon kuliner Makassar, ini bisa jadi rekomendasi icip-icip jika ke Makassar.

Coto Mangkasara

ikon kuliner Makassar

Makanan berkuah yang kaya bumbu dan rempah ini merupakan jajanan yang sangat populer, tidak hanya di Makassar tapi juga di luar Makassar. Coto Mangkasara’ (atau biasa disebut coto Makassar) biasanya berisi daging  dan jeroan sapi. Disinyalir ada beberapa kisah kala disajikannya masakan ini; masakan yang merupakan sajian untuk keluarga raja dan masakan yang merupakan sajian untuk prajurit. Asumsi yang cukup kuat adalah kisah yang kedua, masakan yang merupakan sajian untuk prajurit mengingat isi dari coto adalah jeroan –tidak untuk konsumsi raja- dan mengandung filosofi tersendiri tentang semangat dan keberanian; “Jika isi dalam sapi pun sangup dimakan, apalagi hanya isi dalam musuh yang akan dihadapi “. Huhuhu … serem juga yah.

Saat ini coto Mangkasara dapat kalian jumpai hampir disetiap sudut kota Makassar, dengan cita rasa yang istimewa dan harga yang beragam sebagai salah satu produk kuliner unggulan dan kebanggan Makassar. Dan yang terpenting, kalian tidak harus khawatir lagi tentang musuh saat menikmatinya, tapi hati-hatilah dengan kolesterol XD.

Pisang Ijo

pisang-ijo

Suatu hari, lebih kurang tiga tahun yang lalu saya dan teman-teman melakukan perjalan ke Palopo, salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan untuk memenuhi undangan pernikahan. Di perjalanan pulang kami mampir di Sidrap, masih kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan dan mampir di sebuah warung penyedia salah satu penganan khas Sidrap. Karena masakan belum siap dan warung memang belum buka, kami sedikit memaksa untuk menunggu. Apalagi perjalanan hari itu cukup melelahkan, suasana terik dan kami kelaparan. Serta merta es pisang ijo menjadi menu yang kami pesan dengan penuh sorak sorai setelah melihat daftar menu.

“ Pesan es pisang ijo 8 porsi bu …” kata teman saya setelah mengihitung jumlah pesanan yang ingin es pisang ijo.

“ Maaf dek, masih lama itu es pisang ijo “ jawab pemilik warung.

“ Ndak papa jih bu, nanti kita tunggu juga … “ Tawar saya.

“ Tapi Ramadhan pi baru ada “.

TREDEENG!!

Pisang ijo memang merupakan penganan musiman, adanya hanya saat Ramadhan saja. Terbuat dari pisang yang dibungkus dengan adonan tepung beras beraroma pandan, dan disajikan dengan saos santan yang gurih dan sirup merah bercitarasa pisang ambon –Sirup DHT-. Tapi jangan khawatir, saat ini penjual pisang ijo juga sangat mudah ditemukan di Makassar, apalagi pisang ijo sudah masuk dalam ikon kuliner kota Makassar.

Pallubasa

pallubasa

Sama halnya dengan coto Mangkasara, pallubasa juga merupakan makanan berkuah berisi daging dan jeroan. Yang membedakannya adalah citarasa kuahnya, jika coto Mangkasara memiliki kuah yang bening dan kuat dengan paduan berbagai bumbu serta rempah, pallubasa memiliki tekstur kuah yang lebih kental dan gurih.

Kuah kental dan gurih dari pallubasa ini tercipta dari sangraian kelapa yang dicampur bersama kuah tadi. Yang lebih spesial, saat memesan semangkuk pallubasa di beberapa warung yang cukup terkenal, kalian dapat menambahkan kuning telur mentah ke dalam kuah panasnya –sesuai selera-. Amis? Tentu saja tidak … Gak percaya? Ayo datang dan coba sendiri hehe.

Sop Saudara

sop-saudara

Bukan berarti sup ini isinya saudara yah hehe. Menurut kabar yang berhembus bersama angin, SOP merupakan singkatan dari dari Sup Orang Pangkep dari kalimat yang sering dituturkan seperti ini: “Sup orang Pangkep, saudara … “. Maka jadilah nama sop saudara ini.

Yang membedakan sop saudara dari penganan berkuah lainnya adalah adanya campuran laksa (mi soun). Ini membuktikan bahwa dalam masakan ini sudah terjadi serapan dari kuliner budaya luar, sebab laksa atau mi soun ini bukanlah makanan produksi masyarakat setempat. Dalam racikannya kuahnya beberapa tempat produksi juga memasukkan susu murni untuk menambah kegurihan kuahnya –ssst … yang ini rahasia yah -. Berbeda dengan coto Mangkasara, semangkuk sop saudara akan lebih nikmat dinikmati bersama nasi hangat ketimbang ketupat.

Konro Bakar

konro-bakar

Apa yang kalian pikirkan ketika membicarakan tentang konro bakar? Tepat! Iga ,,, konro bakar sebenarnya masih satu kelompok dengan sup konro. Namun seiring berjalannya waktu penganan konro atau iga ini menjadi bervariasi. Untuk bumbu dan kuahnya sendiri pun masih sama, pembedanya ada dalam proses pengolahan iga itu sendiri dan penambahan saos kacang yang legit untuk konro bakar. Makassar menetapkan konro bakar sebagai ikon kuliner Makassar ke 4 ber-sesuai-an dengan aspek penilaian dan hasil voting yang dilempar kepada umum melalui survey online. Dan menu yang satu ini berhasil mengambil cinta 245 suara online secara acak.

Ibarat ibu dan anak, konro bakar merupakan anak dari sup konro dan ini membuktikan bahwa ibu yang baik dapat membuat anak-anaknya sukses, hehe …

Pallumara

pallumara

Ada yang bilang memasak pallumara itu susah-susah gampang, tergantung “tangan“ dan doa. Hal ini dibenarkan oleh teman saya, sebut saja mbak Nanie, yang sudah berkali-kali berusaha memasak pallumara dan tetap saja belum mendapatkan rasa yang pas dan sesuai dengan masakan ibu juga ibu mertua beliau padahal bumbu yang diracik pun sudah sesuai menurutnya. Begitu pun dengan teman saya yang lainnya, kak Ndy mengeluhkan hal yang sama sehingga jika terjadi gagal masak untuk pallumara, dia memilih menggoreng kembali ikan yang sudah dimasaknya … Benar-benar ibu yang luar biasa XD.

Ya, memasak pallumara memang susah-susah gampang padahal bumbunya sangat mudah hanya bawang, serai, kunyit dan beberapa bumbu lainnya, namun hasilnya cuma dua, kalau gak enak banget ya anyep banget. Pallumara memang merupakan masakan rumahan yang sangat fenomenal. Tapi untuk rasa, jelas ada perbedaan dari rumah satu dan rumah lainnya bahkan untuk warung dengan menu ikan sekalipun.

Pisang Epe

pisang-epe

Bersanding dengan penjual kacang rebus, pisang epe menjadi jajanan rakyat saat ada keramaian atau pesta rakyat berpuluh tahun yang lalu. Namun pisang epe dapat mencuri hati pasar lebih dari kacang rebus. Di Makassar sendiri, pisang epe merupakan jajanan yang dapat kamu temukan di sepanjang Pantai Losari sampai dengan akhir tahun 90-an. Di sepanjang bibir pantai inilah puluhan pedagang pisang epe menjajakan jualannya. Inilah alasan kuat pisang epe bisa masuk sebagai salah satu ikon kuliner Makassar.

Pisang epe dibuat dari jenis pisang tertentu yang dibakar kemudian digepengkan. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan karamel gula merah, biasanya memiliki toping yang variatif; coklat meises, kacang panggang, keju atau selai aneka rasa. Namun semakin kesini karamel gula merah untuk pisang epe ini sudah mengalami perubahan aroma dengan aroma durian.

Mie Kering

mie-kering

Mie kering inilah salah satu jejak dari budaya Tionghoa, adaptasi ifu mie (bakmi yang direbus kemudian digoreng, disiram dengan tumisan sayur) berkembang dan menjadi bagian dari kota Makassar. Saat ini ada 3 tempat penjual Mie Kering yang sering menjadi idola tamu-tamu yang berkunjung ke Makassar bahkan menjadi idola untuk orang-orang ikon kuliner Makassar itu sendiri. Yang mana ketiga tempat penjual mie kering ini merupakan turunan dari pencipta mie kering untuk pertama kalinya walau dengan nama yang berbeda-beda

Mie yang di goreng kering dan disiram dengan tumisan saos gurih dan lezat berisi potongan daging, hati dan ampela ayam ini juga masuk dalam ikon kuliner Makassar, menambah warna tersendiri untuk Kuliner Makassar. Dan mie Kering akan lebih nikmat jika diberi perasan jeruk nipis dan lombok acar.

Jalangkote

jalangkote

Jalangkote … Unik juga untuk penyebutan pastel di Makassar. Ikon kuliner Makassar yang ke 9 adalah Jalangkote, makanan ini merupakan makanan ringan dengan kulit yang renyah dan isi potongan sayuran daging dan telur. Makanan ringan ini adalah jajanan yang di jajakan dengan berkeliling dan diteriakkan dengan teriakan-teriakan khas penjualnya. Konon dari sinilah kata jalangkote itu muncul, penjualnya yang berjalan-jalan sambil berteriak (berkotek-kotek).

Namun jangan khawatir akan kelewatan penjual Jalangkote, sekarang sudah banyak penjual jalankote yang membuka kios permanen tanpa berteriak-teriak. Dan yang mutu dan kwalitasnya pun sangat baik.

Beragam paket liburan hemat, bisa kamu dapatkan di sini: Tiket pesawat yang murah, Pilihan hotel yang murah, dan Tur Keliling Indonesia

Sop Konro

sop-konro

Akhirnya ibu dari konro bakar pun masuk dalam 10 ikon Kuliner Makassar dan menjadi ikon yang terakhir dengan jumlah pemilih 218. Sop konro atau sup iga rasanya memang pas masuk dalam kategori ini. Sup iga ini sangat nikmat dan segar, juga memiliki kuah yang kental. Kekentalan kuah dari sup konro didapat dari gerusan kacang merah atau kacang tanah. Aroma sop konro ini berbeda dengan coto karena cita rasa yang diciptakan juga berbeda dari penggunaan bumbu walaupun memang keduanya merupakan jenis makanan berkuah sama dengan soto-soto lainnya.

Apa yang membedakan? Penggunaan penguat rasa dan aroma dari daun seledri, semua sup-sup-an  menggunakan daun seledri sedang coto tidak menggunakannya.  Jadi perbedaan soto dan coto bukan hanya hanya dari huruf “ S “ dan “ C “ XD.

 

(Visited 1,145 times, 1 visits today)

About

Mommy dua anak hebat – perajut dan crafter – sesekali curhat di ungatawwa.wordpress.com


'10 Ikon Kuliner Makassar' have no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

©2015 HelloMakassar.com a Part of Ezytravel.co.id Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Infringement Search Tool